Assalamu'alaikum wr.wb wahai saudaraku para aktivis,,,coba renungkan ini....ada bnyak hal yang kita sibukkan diluar sana,,, kebanyakn kita para aktivis disibukkan oleh berbagai macam kegiatan,,,dan mungkin saking sibuknya kita bhkan sampai lupa makan, lupa segalanya ( untung ga lupa napas aja.. -_-)...tpi sadarkah kita??ditengah kesibukan itu ada sosok yang terabaikan....sadar atau tidak sadar,,tpi itulah faktanya.... skrang, coba arahkan pandangan kita pada sosok gambar dibawah ini,,,,dan baca tulisannya.....Basmallah....Semoga kita bisa ambil hikmah dibalik tulisan ini... :))
oleh Firman Abadi
“Dimana rumahmu nak?” Orang
bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Orang
bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah
umat. Orang bilang anakku seorang aktivis.Tapi bolehkah aku sampaikan padamu
nak? Ibu bilang engkau hanya seorang anak ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka
bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang
aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin
agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu
nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang
sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk
membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berpikir
bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku, kita memang
berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan
ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di
rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar
Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir
senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus
mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu
lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk
mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk
mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar
segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit
nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis
sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang 9 bulan waktumu engkau
habiskan didalam rahimku.
Anakku, ibu mendengar engkau
sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib
organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau
nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati
ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak?
Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan
acaramu? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah
adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?
Anakku, ibu sungguh
sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika
harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu
dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,
tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah
keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu
yang juga harus kau jaga nak?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, anakku.
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, anakku.
Kalau boleh ibu meminjam
bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu? Dimana profesionalitasmu
untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang
kau buat?
Mungkin, waktumu terlalu
mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau
bisa bersama ibu. Bukan judgement bahwa seorang aktivis sering melupakan satu
amanah terpenting untuk keluarga mereka, karena saya yakin, aktivis yang paham,
mereka pasti mengamalkan dan melaksanakan semua aturan dan ajaran ini secara
kaffah. Semoga bisa menjadi satu tamparan dan pemantik kita untuk lebih mengingat
lagi posisi kita dalam keluarga. Di kampus aktivis? Betul. Namun, dalam
keluarga, kita adalah tetap seorang anak yang harus bisa membagi prioritas dan
membagi perhatian untuk orang terkasih.
Waktu dan ketetapan Allah tak mundur sedetik dan tak maju sedetik pun. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Sampaikanlah dan nyatakanlah cinta dan kasih sayangmu untuk mereka.
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang kita. Saksikanlah Ibu, Ayah, tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang ananda lakukan ini. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridha-Nya.
Waktu dan ketetapan Allah tak mundur sedetik dan tak maju sedetik pun. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Sampaikanlah dan nyatakanlah cinta dan kasih sayangmu untuk mereka.
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang kita. Saksikanlah Ibu, Ayah, tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang ananda lakukan ini. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridha-Nya.
Repost dari: akh Meirizky

Tidak ada komentar:
Posting Komentar